Senin, 18 April 2011

Proposal Kualitatif (Partisipasi Masyarakat Dalam Pendidikan)

By: Fata Fikrul Islam


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI …................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................... 8
C. Tujuan Penelitian . ...................................................................... 9
D. Manfaat Penelitian 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Bahasan Tentang Partisipasi Masyarakat ....................................... 11
1. Pengertian Partisipasi.................................................. 11
2. Pengertian Partisipasi Masyarakat…………………………….14

B. Bahasan Tentang Penyelenggaraan Pendidikan………………………………………………………….16
1. Pengertian Penyelenggaraan……………….........................16
2. Pengertian Pendidikan…………………………………………17

BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian .......................................................................... 20
B. Konsep Dan Variabel
1. Konsep................................................................................ 20
2. Variabel............................................................................... 21
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi................................................................................ 21
2. Sampel................................................................................ .22
3. Sumber Data....................................................................... . 23
D. Pengumpulan Data
1. Kuesioner............................................................................ …23
2. Wawancara..............................................................................24
E. Lokasi Penelitian...........................................................................24
F. Analisis Data.................................................................................24
1. Analisis Deskriptif................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..........




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan pada hakikatnya adalah sebuah usaha dimana peserta didik diharapkan bisa menyelesaikan persoalan-persoalan dalam kehidupannya (syamsudin,2006). Tentu dengan harapan agar peserta didik dapat menjadi lebih baik serta dapat mengembangkan potensi dirinya, sehingga bermanfaat tidak hanya untuk lingkungan sekitarnya tetapi juga masyarakat secara luas yakni negara. Hal yang terpenting dari peserta didik ketika berbicara masalah pendidikan adalah mengenai ilmu. Karena dengan ilmu segala persoalan dan problema yang dihadapi manusia akan dengan mudah dapat terselesaikan. Persoalan-persoalan rumit yang membuat manusia menderita, dengan ilmu akan teratasi. Seperti dijelaskan dalam sebuah hadist bahwasanya jika kamu menginginkan dunia maka harus dengan ilmu, dan jika kamu mengiginkan akhirat maka harus dengan ilmu. Serta jika kamu mengiginkan kedua-duanya maka harus dengan ilmu juga (HR: Bukhori dan muslim). Dalam al-qur’an hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dengan menurunkan wahyu pertamanya kepada nabi Muhammad SAW, yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan (Al-Qur’an,96:1). Secara tersirat ayat ini memerintahkan manusia untuk selalu belajar serta belajar. Posisinya sebagai wahyu yang diturunkan pertama kali seakan ingin menegaskan bahwa sebelum bertindak dan melangkah kemanapun, yang harus dilakukan oleh umat manusia adalah belajar. Dengan kata lain ilmu adalah hal terpenting yang harus dimiliki oleh manusia sebelum hal-hal yang lain. Karena dengan ilmu manusia akan lebih bermanfaat bagi lingkungan dan sesama. Dan oleh karenanya lah manusia pada akhirnya akan lebih tinggi derajatnya ketika memiliki ilmu tersebut karena segala yang ada didunia maupun akhirat pada akhirnya hanya bisa diketahui dengan ilmu. Sehingga begitu pentingnya ilmu hingga Allah menjelaskan dalam suatu firmanya. Yang berbunyi katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran(Al-Qur’an,:39:9). Dalam konteks ini pulalah, Negara sebagai institusi yang mempunyai tanggung jawab untuk melindungi masyarakatnya menciptakan usaha-usaha agar bagaimana seluruh lapisan masyarakat yang ada ditengah-tengah mereka dapat menikmati pendidikan secara merata, dengan harapan pendidikan tersebut dapat mengantarkan negeri ini menjadi negeri yang maju dan sejahtera. Hal ini dapat dilihat pada undan-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab ll pasal 3 sebagai berikut: pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemapuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, barakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh karena itu dengan adanya tanggung jawab tersebut, seharusnya pemerintah lebih aktif lagi dalam usahanya untuk bagaimana mengembangkan pendidikan karena kalau kemudian kita melihat masalah yang paling mendasar dari upaya pemerintah dalam usahanya tersebut ialah menyangkut masalah wewenang. Dengan munculnya hal tersebut dikeluarkanlah undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab lV pasal 10-11 yang menyatakan bahwa: pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan menggawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan yang berlaku.(pasal 10). Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga Negara tanpa diskriminasi.(pasal 11 ayat 1). Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga Negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.(pasal 11 ayat 2). Dengan adanya undang-undang tersebut maka jelaslah bahwasanya haruslah ada keseimbangan wewenang dalam hal pengaturan untuk bagaimana kemudian menciptakan suatu tugas untuk menjamin terpenuhinya hak setiap warga Negara untuk mendapatkan pendidikan secara layak, seperti yang tertuang dalam undang-undang diatas. Untuk itu kemudian semua hal baik itu dari tingkat atas(pemerintah pusat) maupun dari tingkat bawah dalam hal ini adalah pemerintah daerah harus memberikan sebuah tanggung jawab yang seimbang. Ini dalam kaitanya untuk bagaimana membentuk suatu institusi pendidikan yang tidak hanya kuat mengakar secara luarnya saja tetapi juga memberikan daya kekuatan di internalnya. Dalam hal ini lebih condong kepada hal-hal yang sifatnya teknis, seperti masalah dana. Ketika masalah ini muncul ke permukaan campur tanggan pemerintah tentu sangat penting bagi terselenggaranya pendidikan yang layak dinegeri ini. Mengapa demikian, karena angka kemiskinan dan rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan yang disebabkan oleh persoalan ekonomi yang masih sangat tinggi. Ketika hal yang sedemikian rupa tersebut menguak pemerintah mulai melakukan langkah-langkah dalam upaya menaggulangi masalah kemiskinan agar supaya tidak berpenggaruh ke pendidikan. Karena pemerintah menyadari bahwasanya masyarakat negeri ini masih banyak yang memiliki cita-cita, kemauan serta tekat yang kuat untuk mengenyam dunia pendidikan,Lewat hal itulah pemerintah merumuskan serangkaian kebijakan-kebijakan dalam rangka untuk bagaimana menumbuhkan kuantitas dari dunia pendidikan tersebut. Pemerintah akhirnya merealisasikan program Bantuan Operasional Sekolah(BOS) sebagai upaya untuk mengurangi beban masyarakat miskin, itu adalah salah satu langkah yang perlu mendapatkan apresiasi yang layak, sebab program ini adalah salah satu dari empat program yang sengaja direalisasikan untuk menggurangi beban masyarakat miskin akibat naiknya harga BBM. Kebijakan yang terrealisasi sejak awal tahun ajaran 2005-2006,tepatnya bulan juli 2005 ini, disatu sisi disambut dengan penuh antusias dan penuh harap oleh seluruh lapisan di masyarakat, khususnya lapisan terbawah yang tingkat partisipasinya dalam pendidikan memang sangat minim. Akan tetapi ada hal yang tak terduga sebelumnya yaitu bahwa realisasi BOS akan mengurangi bantuan dana sekolah dari pihak ketiga yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama lembaga pendidikan. Padahal dana bantuan ini adalah salah satu pilar utama keberlangsungan sebuah lembaga pendidikan, utamanya lembaga pendidikan swasta seperti madrasah. Karena apa pendidikan itu berlangsung ataupun dilaksanakan bersama oleh keluarga, pihak sekolah, dan masyarakat. Dengan begitu saling membutuhkan antar sesama sangatlah diperlukan untuk bagaimana memajukan dari pada pendidikan itu sendiri. Dengan adanya bantuan ataupun kerjasama-kerjasama tersebut diharapkan penyelenggaraan pendidikan menjadi besar. Ketika partisipasi dari masyarakat semakin besar maka secara otomatis makin besar pula rasa memiliki masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut, karena dengan adanya rasa memiliki masyarakat akan tau dan sadar bahwasanya lembaga pendidikan adalah juga merupakan bagian daipada mereka. Dan dalam kondisi seperti demikian itu masyarakat akan dengan sendirinya ikut memantau, memberikan masukan dan bahkan menjaga keberlangsungannya. Ini biasanya dalam hal-ha yang menyangkut kepada kebijakan dan program yang dicanagkanya, karena apa dua hal inilah yang paling sering dilihat dan dikritisi oleh masyarakat dan lembaga-lembaga lainya. Selain kedua hal diatas tersebut, ketika rasa memiliki terhadap lembaga pendidikan tersebut dimiliki oleh masyarakat maka masyarakat akan membatu ataupun memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk kecintaanya tersebut. Seperti misal hal-hal yang bersifat sangat fisik, seoerti bangunan, alat peraga dan semua bahan penunjang pendidikan akan diberikan, dijaga serta dirawat oleh masyarakat dengan sepenuh hati. Dari berbagai gambaran diatas semakin jelaslah ketika pihak lembaga pendidikan tersebut tidak memberikan sebuah pelayanan yang maksimal kepada anak didik ini sangatlah riskan karena bahwasanya sudah jelas pihak sekolah tidak akan bisa maju sendiri untuk mengelola lembaganya tanpa bantuan dari pada masyarakat yang partisipasinya sangatlah dinantikan, begitupun masyarakat lembaga pendidikan merupakan sebuah keharusan untuk mendidik dan membimbing generasi-generasi mereka agar menjadi lebih baik lagi. Karena apa, maju ataupun mundur bangsa ini adalah tergantung dari bagaimana peran serta kaum intelek mudanya. Jadi disini peran lembaga pendidikan tentunya sangatlah vital,karena lembaga pendidikan adalah wadah serta jembatan untuk bagaimana memproses dari pada generasi-generasi muda agar menjadi lebih baik lagi sebagai fundamental yang kokoh dari bangsa dan Negara ini. Jadi sangatlah tidak masuk akal apabila lembaga pendidikan tidak memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakatnya, demikian juga masyarakat apabila mereka tidak ada peranan untuk lembaga pendidikan hal tersebut juga sangatlah tidak masuk akal. Peneliti mengamati Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Munawarroh, salah satu lembaga pendidikan swasta di Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Disana masyarakat ikut menyumbang dana untuk pembangunan dan pengadaan alat-alat praktik untuk pengajaran serta media pembelajaran secara Cuma-Cuma untuk kepentingan lembaga pendidikan tersebut untuk semakin mengembangkan proses kelancaran belajar mengajar. Bahkan untuk mengerjakan pembangunan gedung madrasah mereka bergotong royong dan bergantian untuk turut menyelesaikan pembangunan tersebut. Waktu penyelesaianya pun lumayan cepat karena setidaknya setiap hari hampir ada 10 orang yang secara sukarela ikut dalam pembangunan tersebut. Akan tetapi kini hal tersebut sangatlah berbeda dengan dulu ketika ada kerjasama antara pihak masyarakat dengan lembaga sekolah yang secara suka rela bantu membantu dalam rangka untuk kepentingan bersama. Hal yang terjadi justru bertolak belakang ketika ada program BOS, perhatian masyarakat yang dulu sangatlah loyal terhadap madrasah ini justru sekarang mulai berangsur-angsur mulai luntur bahkan sangatlah tidak ada partisipasi lagi. Seperti yang terjadi di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Munawarroh tempat peneliti. Dulu sebelum dilaksanakan atau diterapkanya program BOS dengan sesudah diterapkannya program sangatlah berbeda. Ini tidak hanya kepada hal dalam artian partisipasi yang wujudnya fisik, menyangkut dalam hal pendanaan juga demikian, pendanaan untuk lembaga pendidikan tersebut yang bersifat swadaya dari masyarakat juga berangsur-angsur mulai berkurang dan bahkan sulit ketika mau mengajukan dana. Dampak dari pada hal ini adalah berakibat pada sulitnya pengembangan dalam bidang sarana prasarana, seperti bangunan, karena masyarakat telah mempunyai anggapan bahwa pengadaan sarana prasarana dan seluruh pembiyaan di Mi Hidayatul Munawarroh,Tanjunganom,Nganjuk bisa diperoleh dari bantuan pemerintah. Salah satu akibatnya yaitu ada 2 kelas yakni kelas 4 dan kelas 5 yang tidak ada meja dan kursinya, selain itu ada pembangunan kamar mandi yang tidak diteruskan pembangunanya. Dengan demikiaan dapat disimpulkan bahwasanya kebijakan program BOS yang mulai diterapkan pada tahun 2005, disatu sisi bukanlah langkah maju buat masa depan lembaga pendidikan kita. Tetapi memang kalau kemudian kita lihat dengan adanya program ini pada sisi yang lain akan terlihat semakin banyak anak bisa masuk sekolah dan menikmati pendidikan. Akan tetapi kalu kita hubungkan lagi dengan konteks masyarakat kita program ini justru tidak mendidik mental bangsa secara umum. karena untuk menjadi bangsa yang unggul dan tidak manja salah satu hal yang harus diterapkan ialah bekerja keras serta memiliki sebuah kemauan yang maju. Berdasarkan uraian diatas, penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul: “Pengaruh Antara Partisipasi Masyarakat Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan”.(Studi di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Munawarroh Kec. Tanjunganom, Kab. Nganjuk).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, penulis mengagkat permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh variabel Dukungan moral, Bantuan dana dan Kerja sama dari masyarakat terhadap variabel penyelenggaraan pendidikan?
2. Bagaimana pengaruh variabel Dukungan moral, Bantuan dana dan Kerja sama dari masyarakat terhadap variabel penyelenggaraan pendidikan melalui variabel partisipasi masyarakat?
3. Bagaimana pengaruh variabel partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan permasalahan diatas, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh variabel Dukungan moral untuk mensupport pelaksanaan kegiatan. Bantuan dana dan kerja sama untuk mensukseskan pelaksanaan kegiatan terhadap variabel penyelenggaraan pendidikan?
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh variabel Dukungan moral untuk mensupport pelaksanaan kegiatan. Bantuan dana dan kerja sama untuk mensukseskan pelaksanaan kegiatan terhadap variabel kelancaran program pendidikan melalui variabel penyelenggaraan pendidikan?
3. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh variabel partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan?

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai sumbangan untuk dijadikan pengetahuan terutama bagi Diknas agar dapat merespon dengan baik apa yang diharapkan masyarakat untuk meningkatkan penyelenggaraan pendidikan khususnya di Kabupaten Nganjuk.
b. Sebagai bahan reverensi penelitian selanjutnya yang memiliki tema yang relevan.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh dan untuk menambah wawasan dan pengetahuan peneliti.






















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pembahasan Tentang Partisipasi Masyarakat
a.1. Pengertian Partisipasi
Partisipasi adalah proses aktif dan inisiatif yang muncul dari masyarakat serta akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi oleh tiga faktor pendukungnya yaitu:(1) adanya kemauan, (2) adanya kemampuan, dan (3) adanya kesempatanuntuk berpartisipasi (Slamet, 1992). Menurut Ach. Wazir Ws., et al. (1999: 29) partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama
Mikkelsen (1999: 64) membagi partisipasi menjadi 6 (enam) pengertian, yaitu:
• Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan;
• Partisipasi adalah “pemekaan” (membuat peka) pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi proyek-proyek pembangunan;
• Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri;
• Partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu.
• Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek, agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks lokal, dan dampak-dampak sosial;
• Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan, dan lingkungan mereka
a. Tipe partisipasi Sekretariat Bina Desa (1999: 32-33) mengidentifikasikan partisipasi masyarakat menjadi 7 (tujuh) tipe berdasarkan karakteristiknya, yaitu:
• partisipasi pasif/manipulatif,
• partisipasi dengan cara memberikan informasi,
• partisipasi melalui konsultasi,
• partisipasi untuk insentif materil,
• partisipasi fungsional,
• partisipasi interaktif, dan self mobilization.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi
Angell (dalam Ross, 1967: 130) mengatakan partisipasi yang tumbuh dalam masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi, yaitu:
• Usia
Faktor usia merupakan faktor yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan norma masyarakat yang lebih mantap
• Jenis kelamin
Nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya tempat perempuan adalah “di dapur” yang berarti bahwa dalam banyak masyarakat peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga, akan tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik.
• Pendidikan
Dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi.
• Pekerjaan dan penghasilan
Pekerjaan dan penghasilan yang baik dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat..
• Lamanya tinggal
• Lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi seseorang.
b.2. Pengertian Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat menurut Isbandi (2007: 27) adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi.
Faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam suatu program juga dapat berasal dari unsur luar/lingkungan. Menurut Holil (1980: 10) ada 4 poin yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat yang berasal dari luar/lingkungan, yaitu:
• Komunikasi yang intensif antara sesama warga masyarakat, antara warga masyarakat dengan pimpinannya serta antara sistem sosial di dalam masyarakat dengan sistem di luarnya;
• Iklim sosial, ekonomi, politik dan budaya, baik dalam kehidupan keluarga, pergaulan, permainan, sekolah maupun masyarakat dan bangsa yang menguntungkan bagi serta mendorong tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat;
• Kesempatan untuk berpartisipasi. Keadaan lingkungan serta proses dan struktur sosial, sistem nilai dan norma-norma yang memungkinkan dan mendorong terjadinya partisipasi sosial;
• Kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi. Lingkungan di dalam keluarga masyarakat atau lingkungan politik, sosial, budaya yang memungkinkan dan mendorong timbul dan berkembangnya prakarsa, gagasan, perseorangan atau kelompok.
a. 7 Tingkatan partisipasi masyarakat(dirinci dari partisipasi terendah ke tinggi).

• Partisipasi serta dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia. Jenis partisipasi ini adalah jenis yang paling umum (ironisnya dunia pendidikan kita). Pada tingkatan ini masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah untuk mendidik anak-anak mereka.
• Partisipasi serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada partisipasi jenis ini masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan dana, barang, atau tenaga.
• Partisipasi serta secara pasif. Masyarakat dalam tingkatan ini menyetujui dan menerima apa yang diputuskan pihak sekolah (komite sekolah), misalnya komite sekolah memutuskan agar orang tua membayar iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orang tua menerima keputusan itu dengan mematuhinya.
• Partisipasi serta melalui adanya konsultasi. Pada tingkatan ini, orang tua datang ke sekolah untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya.
• Partisipasi serta dalam pelayanan. Orang tua/masyakarat terlibat dalam kegiatan sekolah, misalnya orang tua ikut membantu sekolah ketika ada studi tur, pramuka, kegiatan keagamaan, dsb.
• Partisipasi serta sebagai pelaksana kegiatan. Misalnya sekolah meminta orang tua/masyarakat untuk memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, masalah jender, gizi, dsb. Dapat pula misalnya, berpartisipasi dalam mencatat anak usia sekolah di lingkungannya agar sekolah dapat menampungnya, menjadi nara sumber, guru bantu, dsb.
• Partisipasi serta dalam pengambilan keputusan. Orang tua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan baik akademis maupun non akademis, dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS).
B. Pembahasan Mengenai Penyelenggaraan Pendidikan
c.3. pengertian penyelenggaraan Kamus Bahasa Indonesia Lengkap 2007,548:549, penyelenggaraan berasal dari pada kata “selenggara” yang artinya menguras dan mengusahakan sesuatu (seperti memelihara dan merawat);melakukan atau melaksanakan (perintah, undang-undang, rencana dan sebagainya). Yang kemudian mendapat imbuhan pe- ,yang berubah menjadi “penyelenggara” yang maknanya, pemelihara, pemiara; orang yang menyelenggarakan. Kemudian mendapatkan imbuan pe- dan –an, berubah menjadi “penyelenggaraan” yang maknanya, pemeliharaan, pemiaraan, proses, perbuatan, cara menyelenggarakan dalam berbagai-bagai arti(seperti pelaksanaan,penunaian). Jadi penyelenggaraan memiliki makna suatu proses dalam pelaksanaan sesuatu kegiatan agar terlaksana.
d.4. Pengertian Pendidikan
Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Wikipedia, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
a. Unsur-unsur pendidikan
• Subjek yang dibimbing (peserta didik).
• Orang yang membimbing (pendidik)
• Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
• Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
• Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
• Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
• Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)
B.Tujuan dan Proses Pendidikan
• Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
• Proses pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro,serta mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.
Jadi dapat dikatakan bahwasanya: penyelenggaraan pendidikan, harus mendorong pemberdayaan masyarakat dengan memperluas partisipasi masyarakat dalam pendidikan yang meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan (pasal 54 ayat 1). Masyarakat tersebut dapat berperanan sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan (pasal 54 ayat 2).
Oleh karena itu masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan yang berbasis masyarakat, dengan mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standard nasional pendidikan (pasal 55 ayat 1 dan 2). Dana pendidikan yang berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, pemerintah (pusat), pemerintah daerah dan/atau sumber lain .












BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksplanatori yang menurut Singarimbun, Masri dan Efendi (1995: 5) diartikan sebagai suatu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan kausal antara variabel yaitu penelitian variable-variabel melalui pengujian hipotesa. Walaupun uraiannya juga mengandung deskripsi, tetapi sebagai penelitian relational fokusnya terletak pada penjelasan hubungan-hubungan antar variabel.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Prosesnya berawal dari teori, selanjutnya menggunakan logika deduktif diturunkan hipotesis penelitian yang disertai pengukuran dan operasionalisasi konsep, maka generalisasi empiris yang bersandar pada statistik sehingga dapat disimpulkan sebagai temuan penelitian.

B. Konsep dan Variabel
1. konsep
Menurut Singarimbun, Masri dan Efendi (1995: 34) konsep adalah abstraksi mengebai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu. Setelah konsep dirumuskan, maka agar konsep tersebut dapat diteliti dengan lebih tepat maka harus dioperasionalkan dengan menjabarkan menjadi variabel-variabel tertentu.
Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam hal ini berkaitan dengan dukungan moral dan bantuan dana serta kerjasama pihak sekolah dengan masyarakat untuk memperlancar jalannya pendidikan.
b. Partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu.
c. Penyelenggaraan adalah proses dalam pelaksanaan sesuatu kegiatan agar terlaksana.


2.Variabel
Menurut Simamora (2005: 3), variabel adalah karakteristik, sifat, simbol atau atribut yang diukur, yang kepadanya diberi nilai. Didalam penelitian ini ekonomi dan sosial yang sering melibatkan variabel yang tidak dapat diukur secara langsung, yang disebut variabel laten atau unobservable. Pengukuran variabel laten menggunakan instrumen berupa kuesioner akan menghasilkan data dari setiap indikator atau data dari setiap item (Solimun, Nurjannah dan Rinaldo, 2006: 30). Terdapat 5 variabel laten yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: Dukungan moral, Bantuan dana, Kerja sama dari masyarakat, Partisipasi masyarakat dan Penyelenggaraan pendidikan. Dimana variabel-variabel ini kemudian dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Variabel bebas, dalah variabel yang diduga sebagai penyebab atau pendahulu variabel lain, meliputi:
(1) Dukungan Moral (X1)
(2) Bantuan Dana (X2)
(3) Kerjasama dari masyarakat (X3)
b. Variabel antara, Partisipasi masyarakat ( Z )
c. Variabel terikat, adalh variabel yang diduga sebagai akibat atau yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya, yaitu Penyelenggaraan Pendidikan ( Y ).

Popoulasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga ( Singarimbun, Masri, Efendi, 1995: 152). Menurut Sulistiyono (2005: 90), populasi diartikan sebagai wilayah generalisas yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
Dalam penelitian ini yang menjadi obyek populasi adalah masyarakat di sekitar Madrasah Ibdidaiyah Hidayatul Munawarroh, Kec. Tanjunganom, Kab. Nganjuk. Beserta seluruh elemen civitas akademik di lingkungan internal lembaga tersebut. Alasan penetapan populasi ini ialah berkaitan dengan seberapa besar partisipasi masyarakat di sekitar lingkungan madrasah tersebut terkait dengan penyelenggaraan pendidikan.

2.Sampel
Menurut Sugiarto (2001: 2), sampel adalah sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu, sehingga diharapkan dapat mewakili populasi.
a. Pengambilan sampel adalh suatu proses yang dilakukan untuk memilih dan mengambil sampel secara benar dari suatu populasi, sehingga dapt digunakan sebagai wakil bagi populasi tersebut (Sugiarto, 2001: 4). Terkait erat dengan pengambilan sampel adalah metode yang dipergunakan untuk menyeleksi sejumlah individu dari populasi sehingga dapat menghasilakan sampel yang representatif. Menurut Mantra dan Kastro (Singarimbun, Masri dan Efendi, 1995: 149-195), suatu metode pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: Dapat menghasilakan gambaran yang dapt dipercaya dari seluruh populasi.
b. Dapat menentukan presisi dari hasil penelitian dengan mementukan penyimpangan baku dari taksiran yang diperoleh.
c. Sederhana, sehingga mudah dilaksanakan.
d. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya serendah-rendahnya.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2005: 96), Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, dimana pertimbangan yang diambil berdasarkan tujuan penelitian. Dalam hal ini peneliti membagikan kuesioner kepada responden yang memenuhi kriteria yang ditetapkan, dapt memberikan informasiterkair dengan permasalahan yang diangkat peneliti, yaitu: masrayakat di sekitar lingkungan madrasah beserta civitas akademik di lembaga tersebut.
Menurut Solimun, Nurjannah dan Rinaldo 2006:94), penetuan besarnya sampel dalam analisis jalur yaitu minimal 10 kali juml;ah variabel. Dalam penelitian ini, penetuan jumlah besarnya sampel yang digunakan yaitu 10 kali variabel, dimana variabel pada penelitian ini berjumlah 5, sehingga diperoleh sampel sebanyak 50. Dengan jumlah sampel 40 ini, memudahkan peneliti dalam pengambilan data, dimana hal ini dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya.


3.Sumber Data
Dalam setiap penelitian memerlukan data, baik sebagai bahan untuk deskripsi maupun untuk menguji hipotesia. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu:
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari hasil peneletian langsung di lapangan atau langsung dari sumbernya, yang dalam hal ini adalah responden. Dalam penelitian ini, data primer diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada para responden, yaitu masyarakat di sekitar lingkungan Madrasah Ibdidaiyah Hidayatul Munawarroh Kec. Tanjunganom Kab. Nganjuk.
b. Data Sekunder, yaitu data pendukung untuk melengkapi data primer. Data sekunder ini diperoleh dari wawancara saat penelitian berlangsung dan dokumen–dokumen yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.


D. Pengumpulan Data
1. Kuesioner
Kuisioner merupakan daftar yang berisi serangkaian pertanyaan tentang suatu hal atau suatu bidang. Metode ini dilakukan dengan memberikan sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian kepada responden, yaitu mayarakat di sekitar lingkungan madrasah beserta civitas akademik madrasah ibdidaiyah untuk memperoleh data akurat terkait dengan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan.

2. Wawancara
Wawancara merupakan proses memperoleh keterangan dengan cara mengadakan tanya jawab atau wawancara lagsung dengan nara sumber atau pihak-pihak terkait, yaitu responden maupun pihak masyarakat sekitar madrasah yang bertujuan untuk mendapatkan informasi terkait permasalahan dalam penelitian ini. Metode wawancara ini dilakukan untuk melengkapi data yang mungkin belum terangkum dalam kuesioner.


E. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian disini adalah tempat peneliti untuk mengumpulkan data dari responden dan mengungkap keadaan sebenarnya dari objek yang diteliti.penelitian ini ditujukan kepada masyarakat disekitar madrasah ibdidaiyah tersebut. Alasan pemilihan lokasi tersebut adalah dikarenakan lokasinya dekat dengan lokasi tempat tinggal peneliti selain itu lingkungan akademik yang di teliti juga cukup dekat dengan lokasi tempat tinggal peneliti. Dengan hal ini lebih memudahkan peneliti dalam melaksanakan penelitian dan juga dapat menghemat biaya serta waktu.

F. Analisis Data
Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu menggunakan analisis deskriptif dan analisis jalur, alasan digunakannya analisi jalur, dikarenakan dalam penelitian ini peneliti akan menganalisis hubungan kausal antara variabel bebas dan variabel tergantung melaui variabel perantara, dengan tujuan untuk mengetahui adanya pengaruh baik secara langsung dan tidak langsung.
1. Analisis Deskriptif
Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik penelitian dengan menggambarkan objek penelitian yang terdiri keadaan yang diresponden yang diteliti, serta item-item yang didistribusikan dari masing-masing variabel. Setelah seluruh data yang diperlikan diperoleh, selanjutnya adalah mengelolah data, kemudian mentabulasikan kedalam tabel. Tahap berikutnya adalah membahas data yang diperoleh tersebut secara deskriptif. Ukuran deskriptif adalah dengan pemberian angka, baik dalam jumlah responden maupun dalam angka persentase.
Lampiran 1
KUESIONER PENELITIAN
Kepada
Yth. Saudara/ l responden
Masyarakat Dsn Surodadi, Kec. Tanjunganom, Kab. nganjuk

Dengan hormat,
Ditengah kesibukan saudara /i saat ini, perkenankan saya memohon bantuannya untuk meluangkan waktu sejenak guna mengisi daftar pertanyaan berikut ini.
Jawaban dari saudara / i, saya butuhkan sebagai sarana untuk menyusun penelitian mata kuliah metode penelitian, jurusan Administrasi Publik, program S1 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya malang dengan judul ”Pengaruh Partisipasi Masyarakat terhadap Penyelenggaraan Pendidikan”(studi di Madrasah Ibdidaiyah Hidayatul Munawarroh Kec. Tanjunganom , Kab. Nganjuk.)
Saya harapkan kesedian saudara / i untuk mengisi daftar pertanyaan tersebut sesuai keadaad sebenarnya. Keterbukaan saudara / i dalam memberikan informasi sangat saya hargai dan dijamin kerahasiaannya.
Atas perhatian dan partisipasi saudara / i, saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya,

Fata Fikrul Islam
Petunjuk Pengisian: Berilah tanda Silang (x) pada masing-,masing jawaba
Petunjuk pengisian : Berilah Tanda Silang (x) pada masing-masing jawaban dari pertanyaan dibawah ini sesuai dengan penilaian anda.
IDENTITAS RESPONDEN

1. Jenis Kelamin:
a. Laki-laki b.perempuan
2. Berapa Usia Saudara/i
a. 17-21 c.25-35
b. 21-25 d.Lebih dari 35 Tahun


KONSEP PARTISIPASI MASYARAKAT
Variabel Mengenai Dukungan Moral (X1)
1. Menurut saudara bagaimana dukungan moral orang tua/wali terhadap pengembangan kualitas pendidikan yang di berikan oleh Madrasah?
a. Sangat Memuaskan c. Cukup
b. Kurang Memuaskan d. Tidak Ada
2. Menurut Saudara apakah dukungan moral tersebut sudah di rasa cukup memuaskan atau belum?
a. Sudah c. Cukup
b. Kurang d. Tidak sama sekali
3. Menurut saudara apakah dengan adaya dukungan moral dari masyarakat sudah dapat memperlancar kegiatan penyelenggaraan pendidikan?
a. Sudah c. Cukup
b. Kurang d. Tidak sama sekali
Variabel Mengenai Bantuan Dana (X2)
4. Menurut saudara apakah ketika diminta bantuan dana orang tua wali juga mau berkonstribusi dengan maksimal?
a. Sangat berkonstribusi c. Cukup
b. Kurang berkonstribusi d. Tidak sama sekali
5. Menurut saudara apakah dana yang telah tersedia dari masyarakat sudah cukup untuk menunjang partisipasi pendidikan di Madrasah ?
a. Sangat cukup c. Cukup
b. Belum cukup d. Tidak cukup sama sekali
6. Menurut saudara apakah dana tersebut juga dialokasikan dengan tepat?
a. Sudah tepat c. cukup tepat
b. Kurang tepat d. Tidak tepat
Kerjasama dari Masyarakat (X3)
7. Menurut saudara apakah selama ini telah terjadi kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan masyarakat ?
a. Iya c. Kurang tahu
b. Tidak tahu d. Tidak tahu sama sekali
8. Menurut saudara apakah kerjasama masyarakat itu sudah dirasa cukup baik?
a. Sangat baik c. Cukup baik
b. Kurang baik d. Tidak baik sama
Partisipasi Masyarakat (Z)
9. Menurut saudara apakah selama ini masyarakat ikut berpartisipasi aktif dengan pihak sekolah?
a. Iya c.Kurang tahu
b. Tidak tahu d.Tidak tahu sama sekali
10. Menurut saudara apakah partisipasi masyarakat sudah di rasa memuskan?
a. Sudah Sekali c. Belum
b. Sedang d. Tidak tahu

KONSEP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Penyelenggaraan Pendidikan (Y)
1. Menurut saudara bagaimana dengan kualitas penyelenggaraan pendidikan di lingkungan Madrasah?
a. Memuaskan c. Tidak memuaskan sekali
b. Sedang d. Tidak ada Jawaban
2. Dengan serangkaian kegiatan-kegiatan yang berlangsung di lingkungan Madrasah apakah itu merupakan cermin sudah terselenggaranya pendidikan di lingkungan Madrasah itu dengan baik?
a. Sudah c. Tidak tahu
b. Belum d. Tidak ada jawaban

DAFTAR PUSTAKA
Kaelan,H. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta:Paradigma.
Koentjaraningrat. 1985. Persepsi tentang Kebudayaan Nasional. Dalam Alfian (Ed). Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan. Jakarta: Gramedia, halaman 99-141.
S.Daryanto.1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya:Appollo.
Sugiarto, 2001. Teknik Sampling. Jakarta: PT. Gramedia.
Sulistyono, 2005, Analisis Data. Bogor: Ghalia Indonesia.
(Sumber: Buku Paket Pelatihan Awal untuk Sekolah dan Masyarakat, Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Program Manajemen Berbasis Sekolah, 2006)
agribisnis.deptan.go.id/web/diperta-ntb/produkhukum/bab_26_narasi.pdf. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
Bukit padjajaran69.wordpress.com Diakses Tanggal 27 Maret 2010
ejournal.unud.ac.id. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
Enviroscope.iges.or.jp.Diakses Tanggal 27 Maret 2010
gurupembaharu.com/.../sistem-penjaminan-dan-peningkatan-mutu-pendidikan/ Diakses Tanggal 27 Maret 2010
wordskripsi.blogspot.com/kajian-tentang-partisipasi/.html. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.bappenas.go.id. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.hupelita.com. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.jatimprov.go.id Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.percik.or.id Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.pdfone.com/.../peran-pemerintah-dan-partisipasi-masyarakat-terhadap.html. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.sacafirmansyah.wordpress.com Diakses Tanggal 27 Maret 2010









































































DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI …................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................... 8
C. Tujuan Penelitian . ...................................................................... 9
D. Manfaat Penelitian 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Bahasan Tentang Partisipasi Masyarakat ....................................... 11
1. Pengertian Partisipasi.................................................. 11
2. Pengertian Partisipasi Masyarakat…………………………….14

B. Bahasan Tentang Penyelenggaraan Pendidikan………………………………………………………….16
1. Pengertian Penyelenggaraan……………….........................16
2. Pengertian Pendidikan…………………………………………17

BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian .......................................................................... 20
B. Konsep Dan Variabel
1. Konsep................................................................................ 20
2. Variabel............................................................................... 21
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi................................................................................ 21
2. Sampel................................................................................ .22
3. Sumber Data....................................................................... . 23
D. Pengumpulan Data
1. Kuesioner............................................................................ …23
2. Wawancara..............................................................................24
E. Lokasi Penelitian...........................................................................24
F. Analisis Data.................................................................................24
1. Analisis Deskriptif................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..........




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan pada hakikatnya adalah sebuah usaha dimana peserta didik diharapkan bisa menyelesaikan persoalan-persoalan dalam kehidupannya (syamsudin,2006). Tentu dengan harapan agar peserta didik dapat menjadi lebih baik serta dapat mengembangkan potensi dirinya, sehingga bermanfaat tidak hanya untuk lingkungan sekitarnya tetapi juga masyarakat secara luas yakni negara. Hal yang terpenting dari peserta didik ketika berbicara masalah pendidikan adalah mengenai ilmu. Karena dengan ilmu segala persoalan dan problema yang dihadapi manusia akan dengan mudah dapat terselesaikan. Persoalan-persoalan rumit yang membuat manusia menderita, dengan ilmu akan teratasi. Seperti dijelaskan dalam sebuah hadist bahwasanya jika kamu menginginkan dunia maka harus dengan ilmu, dan jika kamu mengiginkan akhirat maka harus dengan ilmu. Serta jika kamu mengiginkan kedua-duanya maka harus dengan ilmu juga (HR: Bukhori dan muslim). Dalam al-qur’an hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dengan menurunkan wahyu pertamanya kepada nabi Muhammad SAW, yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan (Al-Qur’an,96:1). Secara tersirat ayat ini memerintahkan manusia untuk selalu belajar serta belajar. Posisinya sebagai wahyu yang diturunkan pertama kali seakan ingin menegaskan bahwa sebelum bertindak dan melangkah kemanapun, yang harus dilakukan oleh umat manusia adalah belajar. Dengan kata lain ilmu adalah hal terpenting yang harus dimiliki oleh manusia sebelum hal-hal yang lain. Karena dengan ilmu manusia akan lebih bermanfaat bagi lingkungan dan sesama. Dan oleh karenanya lah manusia pada akhirnya akan lebih tinggi derajatnya ketika memiliki ilmu tersebut karena segala yang ada didunia maupun akhirat pada akhirnya hanya bisa diketahui dengan ilmu. Sehingga begitu pentingnya ilmu hingga Allah menjelaskan dalam suatu firmanya. Yang berbunyi katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran(Al-Qur’an,:39:9). Dalam konteks ini pulalah, Negara sebagai institusi yang mempunyai tanggung jawab untuk melindungi masyarakatnya menciptakan usaha-usaha agar bagaimana seluruh lapisan masyarakat yang ada ditengah-tengah mereka dapat menikmati pendidikan secara merata, dengan harapan pendidikan tersebut dapat mengantarkan negeri ini menjadi negeri yang maju dan sejahtera. Hal ini dapat dilihat pada undan-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab ll pasal 3 sebagai berikut: pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemapuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, barakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh karena itu dengan adanya tanggung jawab tersebut, seharusnya pemerintah lebih aktif lagi dalam usahanya untuk bagaimana mengembangkan pendidikan karena kalau kemudian kita melihat masalah yang paling mendasar dari upaya pemerintah dalam usahanya tersebut ialah menyangkut masalah wewenang. Dengan munculnya hal tersebut dikeluarkanlah undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab lV pasal 10-11 yang menyatakan bahwa: pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan menggawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan yang berlaku.(pasal 10). Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga Negara tanpa diskriminasi.(pasal 11 ayat 1). Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga Negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.(pasal 11 ayat 2). Dengan adanya undang-undang tersebut maka jelaslah bahwasanya haruslah ada keseimbangan wewenang dalam hal pengaturan untuk bagaimana kemudian menciptakan suatu tugas untuk menjamin terpenuhinya hak setiap warga Negara untuk mendapatkan pendidikan secara layak, seperti yang tertuang dalam undang-undang diatas. Untuk itu kemudian semua hal baik itu dari tingkat atas(pemerintah pusat) maupun dari tingkat bawah dalam hal ini adalah pemerintah daerah harus memberikan sebuah tanggung jawab yang seimbang. Ini dalam kaitanya untuk bagaimana membentuk suatu institusi pendidikan yang tidak hanya kuat mengakar secara luarnya saja tetapi juga memberikan daya kekuatan di internalnya. Dalam hal ini lebih condong kepada hal-hal yang sifatnya teknis, seperti masalah dana. Ketika masalah ini muncul ke permukaan campur tanggan pemerintah tentu sangat penting bagi terselenggaranya pendidikan yang layak dinegeri ini. Mengapa demikian, karena angka kemiskinan dan rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan yang disebabkan oleh persoalan ekonomi yang masih sangat tinggi. Ketika hal yang sedemikian rupa tersebut menguak pemerintah mulai melakukan langkah-langkah dalam upaya menaggulangi masalah kemiskinan agar supaya tidak berpenggaruh ke pendidikan. Karena pemerintah menyadari bahwasanya masyarakat negeri ini masih banyak yang memiliki cita-cita, kemauan serta tekat yang kuat untuk mengenyam dunia pendidikan,Lewat hal itulah pemerintah merumuskan serangkaian kebijakan-kebijakan dalam rangka untuk bagaimana menumbuhkan kuantitas dari dunia pendidikan tersebut. Pemerintah akhirnya merealisasikan program Bantuan Operasional Sekolah(BOS) sebagai upaya untuk mengurangi beban masyarakat miskin, itu adalah salah satu langkah yang perlu mendapatkan apresiasi yang layak, sebab program ini adalah salah satu dari empat program yang sengaja direalisasikan untuk menggurangi beban masyarakat miskin akibat naiknya harga BBM. Kebijakan yang terrealisasi sejak awal tahun ajaran 2005-2006,tepatnya bulan juli 2005 ini, disatu sisi disambut dengan penuh antusias dan penuh harap oleh seluruh lapisan di masyarakat, khususnya lapisan terbawah yang tingkat partisipasinya dalam pendidikan memang sangat minim. Akan tetapi ada hal yang tak terduga sebelumnya yaitu bahwa realisasi BOS akan mengurangi bantuan dana sekolah dari pihak ketiga yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama lembaga pendidikan. Padahal dana bantuan ini adalah salah satu pilar utama keberlangsungan sebuah lembaga pendidikan, utamanya lembaga pendidikan swasta seperti madrasah. Karena apa pendidikan itu berlangsung ataupun dilaksanakan bersama oleh keluarga, pihak sekolah, dan masyarakat. Dengan begitu saling membutuhkan antar sesama sangatlah diperlukan untuk bagaimana memajukan dari pada pendidikan itu sendiri. Dengan adanya bantuan ataupun kerjasama-kerjasama tersebut diharapkan penyelenggaraan pendidikan menjadi besar. Ketika partisipasi dari masyarakat semakin besar maka secara otomatis makin besar pula rasa memiliki masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut, karena dengan adanya rasa memiliki masyarakat akan tau dan sadar bahwasanya lembaga pendidikan adalah juga merupakan bagian daipada mereka. Dan dalam kondisi seperti demikian itu masyarakat akan dengan sendirinya ikut memantau, memberikan masukan dan bahkan menjaga keberlangsungannya. Ini biasanya dalam hal-ha yang menyangkut kepada kebijakan dan program yang dicanagkanya, karena apa dua hal inilah yang paling sering dilihat dan dikritisi oleh masyarakat dan lembaga-lembaga lainya. Selain kedua hal diatas tersebut, ketika rasa memiliki terhadap lembaga pendidikan tersebut dimiliki oleh masyarakat maka masyarakat akan membatu ataupun memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk kecintaanya tersebut. Seperti misal hal-hal yang bersifat sangat fisik, seoerti bangunan, alat peraga dan semua bahan penunjang pendidikan akan diberikan, dijaga serta dirawat oleh masyarakat dengan sepenuh hati. Dari berbagai gambaran diatas semakin jelaslah ketika pihak lembaga pendidikan tersebut tidak memberikan sebuah pelayanan yang maksimal kepada anak didik ini sangatlah riskan karena bahwasanya sudah jelas pihak sekolah tidak akan bisa maju sendiri untuk mengelola lembaganya tanpa bantuan dari pada masyarakat yang partisipasinya sangatlah dinantikan, begitupun masyarakat lembaga pendidikan merupakan sebuah keharusan untuk mendidik dan membimbing generasi-generasi mereka agar menjadi lebih baik lagi. Karena apa, maju ataupun mundur bangsa ini adalah tergantung dari bagaimana peran serta kaum intelek mudanya. Jadi disini peran lembaga pendidikan tentunya sangatlah vital,karena lembaga pendidikan adalah wadah serta jembatan untuk bagaimana memproses dari pada generasi-generasi muda agar menjadi lebih baik lagi sebagai fundamental yang kokoh dari bangsa dan Negara ini. Jadi sangatlah tidak masuk akal apabila lembaga pendidikan tidak memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakatnya, demikian juga masyarakat apabila mereka tidak ada peranan untuk lembaga pendidikan hal tersebut juga sangatlah tidak masuk akal. Peneliti mengamati Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Munawarroh, salah satu lembaga pendidikan swasta di Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Disana masyarakat ikut menyumbang dana untuk pembangunan dan pengadaan alat-alat praktik untuk pengajaran serta media pembelajaran secara Cuma-Cuma untuk kepentingan lembaga pendidikan tersebut untuk semakin mengembangkan proses kelancaran belajar mengajar. Bahkan untuk mengerjakan pembangunan gedung madrasah mereka bergotong royong dan bergantian untuk turut menyelesaikan pembangunan tersebut. Waktu penyelesaianya pun lumayan cepat karena setidaknya setiap hari hampir ada 10 orang yang secara sukarela ikut dalam pembangunan tersebut. Akan tetapi kini hal tersebut sangatlah berbeda dengan dulu ketika ada kerjasama antara pihak masyarakat dengan lembaga sekolah yang secara suka rela bantu membantu dalam rangka untuk kepentingan bersama. Hal yang terjadi justru bertolak belakang ketika ada program BOS, perhatian masyarakat yang dulu sangatlah loyal terhadap madrasah ini justru sekarang mulai berangsur-angsur mulai luntur bahkan sangatlah tidak ada partisipasi lagi. Seperti yang terjadi di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Munawarroh tempat peneliti. Dulu sebelum dilaksanakan atau diterapkanya program BOS dengan sesudah diterapkannya program sangatlah berbeda. Ini tidak hanya kepada hal dalam artian partisipasi yang wujudnya fisik, menyangkut dalam hal pendanaan juga demikian, pendanaan untuk lembaga pendidikan tersebut yang bersifat swadaya dari masyarakat juga berangsur-angsur mulai berkurang dan bahkan sulit ketika mau mengajukan dana. Dampak dari pada hal ini adalah berakibat pada sulitnya pengembangan dalam bidang sarana prasarana, seperti bangunan, karena masyarakat telah mempunyai anggapan bahwa pengadaan sarana prasarana dan seluruh pembiyaan di Mi Hidayatul Munawarroh,Tanjunganom,Nganjuk bisa diperoleh dari bantuan pemerintah. Salah satu akibatnya yaitu ada 2 kelas yakni kelas 4 dan kelas 5 yang tidak ada meja dan kursinya, selain itu ada pembangunan kamar mandi yang tidak diteruskan pembangunanya. Dengan demikiaan dapat disimpulkan bahwasanya kebijakan program BOS yang mulai diterapkan pada tahun 2005, disatu sisi bukanlah langkah maju buat masa depan lembaga pendidikan kita. Tetapi memang kalau kemudian kita lihat dengan adanya program ini pada sisi yang lain akan terlihat semakin banyak anak bisa masuk sekolah dan menikmati pendidikan. Akan tetapi kalu kita hubungkan lagi dengan konteks masyarakat kita program ini justru tidak mendidik mental bangsa secara umum. karena untuk menjadi bangsa yang unggul dan tidak manja salah satu hal yang harus diterapkan ialah bekerja keras serta memiliki sebuah kemauan yang maju. Berdasarkan uraian diatas, penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul: “Pengaruh Antara Partisipasi Masyarakat Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan”.(Studi di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Munawarroh Kec. Tanjunganom, Kab. Nganjuk).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, penulis mengagkat permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh variabel Dukungan moral, Bantuan dana dan Kerja sama dari masyarakat terhadap variabel penyelenggaraan pendidikan?
2. Bagaimana pengaruh variabel Dukungan moral, Bantuan dana dan Kerja sama dari masyarakat terhadap variabel penyelenggaraan pendidikan melalui variabel partisipasi masyarakat?
3. Bagaimana pengaruh variabel partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan permasalahan diatas, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh variabel Dukungan moral untuk mensupport pelaksanaan kegiatan. Bantuan dana dan kerja sama untuk mensukseskan pelaksanaan kegiatan terhadap variabel penyelenggaraan pendidikan?
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh variabel Dukungan moral untuk mensupport pelaksanaan kegiatan. Bantuan dana dan kerja sama untuk mensukseskan pelaksanaan kegiatan terhadap variabel kelancaran program pendidikan melalui variabel penyelenggaraan pendidikan?
3. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh variabel partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan?

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai sumbangan untuk dijadikan pengetahuan terutama bagi Diknas agar dapat merespon dengan baik apa yang diharapkan masyarakat untuk meningkatkan penyelenggaraan pendidikan khususnya di Kabupaten Nganjuk.
b. Sebagai bahan reverensi penelitian selanjutnya yang memiliki tema yang relevan.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh dan untuk menambah wawasan dan pengetahuan peneliti.






















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pembahasan Tentang Partisipasi Masyarakat
a.1. Pengertian Partisipasi
Partisipasi adalah proses aktif dan inisiatif yang muncul dari masyarakat serta akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi oleh tiga faktor pendukungnya yaitu:(1) adanya kemauan, (2) adanya kemampuan, dan (3) adanya kesempatanuntuk berpartisipasi (Slamet, 1992). Menurut Ach. Wazir Ws., et al. (1999: 29) partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama
Mikkelsen (1999: 64) membagi partisipasi menjadi 6 (enam) pengertian, yaitu:
• Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan;
• Partisipasi adalah “pemekaan” (membuat peka) pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi proyek-proyek pembangunan;
• Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri;
• Partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu.
• Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek, agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks lokal, dan dampak-dampak sosial;
• Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan, dan lingkungan mereka
a. Tipe partisipasi Sekretariat Bina Desa (1999: 32-33) mengidentifikasikan partisipasi masyarakat menjadi 7 (tujuh) tipe berdasarkan karakteristiknya, yaitu:
• partisipasi pasif/manipulatif,
• partisipasi dengan cara memberikan informasi,
• partisipasi melalui konsultasi,
• partisipasi untuk insentif materil,
• partisipasi fungsional,
• partisipasi interaktif, dan self mobilization.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi
Angell (dalam Ross, 1967: 130) mengatakan partisipasi yang tumbuh dalam masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi, yaitu:
• Usia
Faktor usia merupakan faktor yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan norma masyarakat yang lebih mantap
• Jenis kelamin
Nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya tempat perempuan adalah “di dapur” yang berarti bahwa dalam banyak masyarakat peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga, akan tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik.
• Pendidikan
Dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi.
• Pekerjaan dan penghasilan
Pekerjaan dan penghasilan yang baik dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat..
• Lamanya tinggal
• Lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi seseorang.
b.2. Pengertian Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat menurut Isbandi (2007: 27) adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi.
Faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam suatu program juga dapat berasal dari unsur luar/lingkungan. Menurut Holil (1980: 10) ada 4 poin yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat yang berasal dari luar/lingkungan, yaitu:
• Komunikasi yang intensif antara sesama warga masyarakat, antara warga masyarakat dengan pimpinannya serta antara sistem sosial di dalam masyarakat dengan sistem di luarnya;
• Iklim sosial, ekonomi, politik dan budaya, baik dalam kehidupan keluarga, pergaulan, permainan, sekolah maupun masyarakat dan bangsa yang menguntungkan bagi serta mendorong tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat;
• Kesempatan untuk berpartisipasi. Keadaan lingkungan serta proses dan struktur sosial, sistem nilai dan norma-norma yang memungkinkan dan mendorong terjadinya partisipasi sosial;
• Kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi. Lingkungan di dalam keluarga masyarakat atau lingkungan politik, sosial, budaya yang memungkinkan dan mendorong timbul dan berkembangnya prakarsa, gagasan, perseorangan atau kelompok.
a. 7 Tingkatan partisipasi masyarakat(dirinci dari partisipasi terendah ke tinggi).

• Partisipasi serta dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia. Jenis partisipasi ini adalah jenis yang paling umum (ironisnya dunia pendidikan kita). Pada tingkatan ini masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah untuk mendidik anak-anak mereka.
• Partisipasi serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada partisipasi jenis ini masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan dana, barang, atau tenaga.
• Partisipasi serta secara pasif. Masyarakat dalam tingkatan ini menyetujui dan menerima apa yang diputuskan pihak sekolah (komite sekolah), misalnya komite sekolah memutuskan agar orang tua membayar iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orang tua menerima keputusan itu dengan mematuhinya.
• Partisipasi serta melalui adanya konsultasi. Pada tingkatan ini, orang tua datang ke sekolah untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya.
• Partisipasi serta dalam pelayanan. Orang tua/masyakarat terlibat dalam kegiatan sekolah, misalnya orang tua ikut membantu sekolah ketika ada studi tur, pramuka, kegiatan keagamaan, dsb.
• Partisipasi serta sebagai pelaksana kegiatan. Misalnya sekolah meminta orang tua/masyarakat untuk memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, masalah jender, gizi, dsb. Dapat pula misalnya, berpartisipasi dalam mencatat anak usia sekolah di lingkungannya agar sekolah dapat menampungnya, menjadi nara sumber, guru bantu, dsb.
• Partisipasi serta dalam pengambilan keputusan. Orang tua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan baik akademis maupun non akademis, dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS).
B. Pembahasan Mengenai Penyelenggaraan Pendidikan
c.3. pengertian penyelenggaraan Kamus Bahasa Indonesia Lengkap 2007,548:549, penyelenggaraan berasal dari pada kata “selenggara” yang artinya menguras dan mengusahakan sesuatu (seperti memelihara dan merawat);melakukan atau melaksanakan (perintah, undang-undang, rencana dan sebagainya). Yang kemudian mendapat imbuhan pe- ,yang berubah menjadi “penyelenggara” yang maknanya, pemelihara, pemiara; orang yang menyelenggarakan. Kemudian mendapatkan imbuan pe- dan –an, berubah menjadi “penyelenggaraan” yang maknanya, pemeliharaan, pemiaraan, proses, perbuatan, cara menyelenggarakan dalam berbagai-bagai arti(seperti pelaksanaan,penunaian). Jadi penyelenggaraan memiliki makna suatu proses dalam pelaksanaan sesuatu kegiatan agar terlaksana.
d.4. Pengertian Pendidikan
Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Wikipedia, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
a. Unsur-unsur pendidikan
• Subjek yang dibimbing (peserta didik).
• Orang yang membimbing (pendidik)
• Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
• Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
• Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
• Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
• Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)
B.Tujuan dan Proses Pendidikan
• Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
• Proses pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro,serta mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.
Jadi dapat dikatakan bahwasanya: penyelenggaraan pendidikan, harus mendorong pemberdayaan masyarakat dengan memperluas partisipasi masyarakat dalam pendidikan yang meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan (pasal 54 ayat 1). Masyarakat tersebut dapat berperanan sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan (pasal 54 ayat 2).
Oleh karena itu masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan yang berbasis masyarakat, dengan mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standard nasional pendidikan (pasal 55 ayat 1 dan 2). Dana pendidikan yang berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, pemerintah (pusat), pemerintah daerah dan/atau sumber lain .












BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksplanatori yang menurut Singarimbun, Masri dan Efendi (1995: 5) diartikan sebagai suatu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan kausal antara variabel yaitu penelitian variable-variabel melalui pengujian hipotesa. Walaupun uraiannya juga mengandung deskripsi, tetapi sebagai penelitian relational fokusnya terletak pada penjelasan hubungan-hubungan antar variabel.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Prosesnya berawal dari teori, selanjutnya menggunakan logika deduktif diturunkan hipotesis penelitian yang disertai pengukuran dan operasionalisasi konsep, maka generalisasi empiris yang bersandar pada statistik sehingga dapat disimpulkan sebagai temuan penelitian.

B. Konsep dan Variabel
1. konsep
Menurut Singarimbun, Masri dan Efendi (1995: 34) konsep adalah abstraksi mengebai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu. Setelah konsep dirumuskan, maka agar konsep tersebut dapat diteliti dengan lebih tepat maka harus dioperasionalkan dengan menjabarkan menjadi variabel-variabel tertentu.
Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam hal ini berkaitan dengan dukungan moral dan bantuan dana serta kerjasama pihak sekolah dengan masyarakat untuk memperlancar jalannya pendidikan.
b. Partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu.
c. Penyelenggaraan adalah proses dalam pelaksanaan sesuatu kegiatan agar terlaksana.


2.Variabel
Menurut Simamora (2005: 3), variabel adalah karakteristik, sifat, simbol atau atribut yang diukur, yang kepadanya diberi nilai. Didalam penelitian ini ekonomi dan sosial yang sering melibatkan variabel yang tidak dapat diukur secara langsung, yang disebut variabel laten atau unobservable. Pengukuran variabel laten menggunakan instrumen berupa kuesioner akan menghasilkan data dari setiap indikator atau data dari setiap item (Solimun, Nurjannah dan Rinaldo, 2006: 30). Terdapat 5 variabel laten yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: Dukungan moral, Bantuan dana, Kerja sama dari masyarakat, Partisipasi masyarakat dan Penyelenggaraan pendidikan. Dimana variabel-variabel ini kemudian dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Variabel bebas, dalah variabel yang diduga sebagai penyebab atau pendahulu variabel lain, meliputi:
(1) Dukungan Moral (X1)
(2) Bantuan Dana (X2)
(3) Kerjasama dari masyarakat (X3)
b. Variabel antara, Partisipasi masyarakat ( Z )
c. Variabel terikat, adalh variabel yang diduga sebagai akibat atau yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya, yaitu Penyelenggaraan Pendidikan ( Y ).

Popoulasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga ( Singarimbun, Masri, Efendi, 1995: 152). Menurut Sulistiyono (2005: 90), populasi diartikan sebagai wilayah generalisas yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
Dalam penelitian ini yang menjadi obyek populasi adalah masyarakat di sekitar Madrasah Ibdidaiyah Hidayatul Munawarroh, Kec. Tanjunganom, Kab. Nganjuk. Beserta seluruh elemen civitas akademik di lingkungan internal lembaga tersebut. Alasan penetapan populasi ini ialah berkaitan dengan seberapa besar partisipasi masyarakat di sekitar lingkungan madrasah tersebut terkait dengan penyelenggaraan pendidikan.

2.Sampel
Menurut Sugiarto (2001: 2), sampel adalah sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu, sehingga diharapkan dapat mewakili populasi.
a. Pengambilan sampel adalh suatu proses yang dilakukan untuk memilih dan mengambil sampel secara benar dari suatu populasi, sehingga dapt digunakan sebagai wakil bagi populasi tersebut (Sugiarto, 2001: 4). Terkait erat dengan pengambilan sampel adalah metode yang dipergunakan untuk menyeleksi sejumlah individu dari populasi sehingga dapat menghasilakan sampel yang representatif. Menurut Mantra dan Kastro (Singarimbun, Masri dan Efendi, 1995: 149-195), suatu metode pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: Dapat menghasilakan gambaran yang dapt dipercaya dari seluruh populasi.
b. Dapat menentukan presisi dari hasil penelitian dengan mementukan penyimpangan baku dari taksiran yang diperoleh.
c. Sederhana, sehingga mudah dilaksanakan.
d. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya serendah-rendahnya.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2005: 96), Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, dimana pertimbangan yang diambil berdasarkan tujuan penelitian. Dalam hal ini peneliti membagikan kuesioner kepada responden yang memenuhi kriteria yang ditetapkan, dapt memberikan informasiterkair dengan permasalahan yang diangkat peneliti, yaitu: masrayakat di sekitar lingkungan madrasah beserta civitas akademik di lembaga tersebut.
Menurut Solimun, Nurjannah dan Rinaldo 2006:94), penetuan besarnya sampel dalam analisis jalur yaitu minimal 10 kali juml;ah variabel. Dalam penelitian ini, penetuan jumlah besarnya sampel yang digunakan yaitu 10 kali variabel, dimana variabel pada penelitian ini berjumlah 5, sehingga diperoleh sampel sebanyak 50. Dengan jumlah sampel 40 ini, memudahkan peneliti dalam pengambilan data, dimana hal ini dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya.


3.Sumber Data
Dalam setiap penelitian memerlukan data, baik sebagai bahan untuk deskripsi maupun untuk menguji hipotesia. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu:
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari hasil peneletian langsung di lapangan atau langsung dari sumbernya, yang dalam hal ini adalah responden. Dalam penelitian ini, data primer diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada para responden, yaitu masyarakat di sekitar lingkungan Madrasah Ibdidaiyah Hidayatul Munawarroh Kec. Tanjunganom Kab. Nganjuk.
b. Data Sekunder, yaitu data pendukung untuk melengkapi data primer. Data sekunder ini diperoleh dari wawancara saat penelitian berlangsung dan dokumen–dokumen yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.


D. Pengumpulan Data
1. Kuesioner
Kuisioner merupakan daftar yang berisi serangkaian pertanyaan tentang suatu hal atau suatu bidang. Metode ini dilakukan dengan memberikan sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian kepada responden, yaitu mayarakat di sekitar lingkungan madrasah beserta civitas akademik madrasah ibdidaiyah untuk memperoleh data akurat terkait dengan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan.

2. Wawancara
Wawancara merupakan proses memperoleh keterangan dengan cara mengadakan tanya jawab atau wawancara lagsung dengan nara sumber atau pihak-pihak terkait, yaitu responden maupun pihak masyarakat sekitar madrasah yang bertujuan untuk mendapatkan informasi terkait permasalahan dalam penelitian ini. Metode wawancara ini dilakukan untuk melengkapi data yang mungkin belum terangkum dalam kuesioner.


E. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian disini adalah tempat peneliti untuk mengumpulkan data dari responden dan mengungkap keadaan sebenarnya dari objek yang diteliti.penelitian ini ditujukan kepada masyarakat disekitar madrasah ibdidaiyah tersebut. Alasan pemilihan lokasi tersebut adalah dikarenakan lokasinya dekat dengan lokasi tempat tinggal peneliti selain itu lingkungan akademik yang di teliti juga cukup dekat dengan lokasi tempat tinggal peneliti. Dengan hal ini lebih memudahkan peneliti dalam melaksanakan penelitian dan juga dapat menghemat biaya serta waktu.

F. Analisis Data
Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu menggunakan analisis deskriptif dan analisis jalur, alasan digunakannya analisi jalur, dikarenakan dalam penelitian ini peneliti akan menganalisis hubungan kausal antara variabel bebas dan variabel tergantung melaui variabel perantara, dengan tujuan untuk mengetahui adanya pengaruh baik secara langsung dan tidak langsung.
1. Analisis Deskriptif
Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik penelitian dengan menggambarkan objek penelitian yang terdiri keadaan yang diresponden yang diteliti, serta item-item yang didistribusikan dari masing-masing variabel. Setelah seluruh data yang diperlikan diperoleh, selanjutnya adalah mengelolah data, kemudian mentabulasikan kedalam tabel. Tahap berikutnya adalah membahas data yang diperoleh tersebut secara deskriptif. Ukuran deskriptif adalah dengan pemberian angka, baik dalam jumlah responden maupun dalam angka persentase.
Lampiran 1
KUESIONER PENELITIAN
Kepada
Yth. Saudara/ l responden
Masyarakat Dsn Surodadi, Kec. Tanjunganom, Kab. nganjuk

Dengan hormat,
Ditengah kesibukan saudara /i saat ini, perkenankan saya memohon bantuannya untuk meluangkan waktu sejenak guna mengisi daftar pertanyaan berikut ini.
Jawaban dari saudara / i, saya butuhkan sebagai sarana untuk menyusun penelitian mata kuliah metode penelitian, jurusan Administrasi Publik, program S1 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya malang dengan judul ”Pengaruh Partisipasi Masyarakat terhadap Penyelenggaraan Pendidikan”(studi di Madrasah Ibdidaiyah Hidayatul Munawarroh Kec. Tanjunganom , Kab. Nganjuk.)
Saya harapkan kesedian saudara / i untuk mengisi daftar pertanyaan tersebut sesuai keadaad sebenarnya. Keterbukaan saudara / i dalam memberikan informasi sangat saya hargai dan dijamin kerahasiaannya.
Atas perhatian dan partisipasi saudara / i, saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya,

Fata Fikrul Islam
Petunjuk Pengisian: Berilah tanda Silang (x) pada masing-,masing jawaba
Petunjuk pengisian : Berilah Tanda Silang (x) pada masing-masing jawaban dari pertanyaan dibawah ini sesuai dengan penilaian anda.
IDENTITAS RESPONDEN

1. Jenis Kelamin:
a. Laki-laki b.perempuan
2. Berapa Usia Saudara/i
a. 17-21 c.25-35
b. 21-25 d.Lebih dari 35 Tahun


KONSEP PARTISIPASI MASYARAKAT
Variabel Mengenai Dukungan Moral (X1)
1. Menurut saudara bagaimana dukungan moral orang tua/wali terhadap pengembangan kualitas pendidikan yang di berikan oleh Madrasah?
a. Sangat Memuaskan c. Cukup
b. Kurang Memuaskan d. Tidak Ada
2. Menurut Saudara apakah dukungan moral tersebut sudah di rasa cukup memuaskan atau belum?
a. Sudah c. Cukup
b. Kurang d. Tidak sama sekali
3. Menurut saudara apakah dengan adaya dukungan moral dari masyarakat sudah dapat memperlancar kegiatan penyelenggaraan pendidikan?
a. Sudah c. Cukup
b. Kurang d. Tidak sama sekali
Variabel Mengenai Bantuan Dana (X2)
4. Menurut saudara apakah ketika diminta bantuan dana orang tua wali juga mau berkonstribusi dengan maksimal?
a. Sangat berkonstribusi c. Cukup
b. Kurang berkonstribusi d. Tidak sama sekali
5. Menurut saudara apakah dana yang telah tersedia dari masyarakat sudah cukup untuk menunjang partisipasi pendidikan di Madrasah ?
a. Sangat cukup c. Cukup
b. Belum cukup d. Tidak cukup sama sekali
6. Menurut saudara apakah dana tersebut juga dialokasikan dengan tepat?
a. Sudah tepat c. cukup tepat
b. Kurang tepat d. Tidak tepat
Kerjasama dari Masyarakat (X3)
7. Menurut saudara apakah selama ini telah terjadi kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan masyarakat ?
a. Iya c. Kurang tahu
b. Tidak tahu d. Tidak tahu sama sekali
8. Menurut saudara apakah kerjasama masyarakat itu sudah dirasa cukup baik?
a. Sangat baik c. Cukup baik
b. Kurang baik d. Tidak baik sama
Partisipasi Masyarakat (Z)
9. Menurut saudara apakah selama ini masyarakat ikut berpartisipasi aktif dengan pihak sekolah?
a. Iya c.Kurang tahu
b. Tidak tahu d.Tidak tahu sama sekali
10. Menurut saudara apakah partisipasi masyarakat sudah di rasa memuskan?
a. Sudah Sekali c. Belum
b. Sedang d. Tidak tahu

KONSEP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Penyelenggaraan Pendidikan (Y)
1. Menurut saudara bagaimana dengan kualitas penyelenggaraan pendidikan di lingkungan Madrasah?
a. Memuaskan c. Tidak memuaskan sekali
b. Sedang d. Tidak ada Jawaban
2. Dengan serangkaian kegiatan-kegiatan yang berlangsung di lingkungan Madrasah apakah itu merupakan cermin sudah terselenggaranya pendidikan di lingkungan Madrasah itu dengan baik?
a. Sudah c. Tidak tahu
b. Belum d. Tidak ada jawaban

DAFTAR PUSTAKA
Kaelan,H. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta:Paradigma.
Koentjaraningrat. 1985. Persepsi tentang Kebudayaan Nasional. Dalam Alfian (Ed). Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan. Jakarta: Gramedia, halaman 99-141.
S.Daryanto.1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya:Appollo.
Sugiarto, 2001. Teknik Sampling. Jakarta: PT. Gramedia.
Sulistyono, 2005, Analisis Data. Bogor: Ghalia Indonesia.
(Sumber: Buku Paket Pelatihan Awal untuk Sekolah dan Masyarakat, Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Program Manajemen Berbasis Sekolah, 2006)
agribisnis.deptan.go.id/web/diperta-ntb/produkhukum/bab_26_narasi.pdf. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
Bukit padjajaran69.wordpress.com Diakses Tanggal 27 Maret 2010
ejournal.unud.ac.id. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
Enviroscope.iges.or.jp.Diakses Tanggal 27 Maret 2010
gurupembaharu.com/.../sistem-penjaminan-dan-peningkatan-mutu-pendidikan/ Diakses Tanggal 27 Maret 2010
wordskripsi.blogspot.com/kajian-tentang-partisipasi/.html. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.bappenas.go.id. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.hupelita.com. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.jatimprov.go.id Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.percik.or.id Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.pdfone.com/.../peran-pemerintah-dan-partisipasi-masyarakat-terhadap.html. Diakses Tanggal 27 Maret 2010
www.sacafirmansyah.wordpress.com Diakses Tanggal 27 Maret 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar